Sabtu, 29 April 2017

Gema Sepi


Ketika terjaga dari mimpi penghabisan
Terasa heningnya mengusap sehelai sendu
Memandang beku tangisan
Terasa mati mengelus kelu
Karma bergolak
Takdir melonjak

Diamku membuat sepi berteriak
Ketika bintang gemerlap mengiris langit
Pelangi retak
Awan terhimpit
Napas menggeliat pasrah
Mengelus dada merah

Ah, himpit kapan beranjak
Kuingin arti sejenak

Jumat, 28 April 2017

Lembaran Yang Terbuang


Lembaran 14 april 2016

Siang yang cerah. Sejauh mata memandang, terlihat beberapa gumpalan kecil awan putih seperti kapas berlayar tenang dengan latar belakang langit biru terbentang luas. Matahari bulan April memancarkan sinarnya dengan garang, seakan siap memanggang kota Makassar beserta isinya.
Usai mengatur lapak, saya duduk bersandar di bawah pohon kecil, berteduh sambil menanti pembeli. Biasanya jika terik begini, banyak pengendara motor yang singgah membeli kaos kaki dan kaos tangan untuk menghindari panas. Tapi entah kenapa hari ini agak sepi. Inilah pedagang kaki lima, kadang ramai pembeli, kadang pulang dengan tangan kosong.
Setengah jam berlalu. Angin sepoi yang bertiup lembut mulai mengundang rasa kantuk. Pelan namun pasti, kelopak mata ini kian terasa berat.
Dari kejauhan terlihat sesosok perempuan tua dengan sebilah tongkat berjalan terseok-seok menyusuri pinggiran jalan berdebu. Langkahnya gontai, dan terkadang linglung. Bisa ditebak kalau perempuan tua tersebut kurang sehat. Tangan kanannya bertumpu pada tongkatnya, sedangkan tangan kirinya mendekap sebuah buntalan kecil di depan dada. Sekilas terlihat seperti menggendong bayi, tapi rasanya tidak mungkin perempuan seumuran itu punya anak bayi. Dia mengenakan kebaya lusuh yang sudah tidak jelas warna dan motifnya. Beberapa tambalan menghiasi di sana sini.
Dengan tertatih dia berjalan ke arahku, sambil sesekali menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Tak lama kemudian dia sudah sampai di depanku. Sejenak dia berhenti untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah kecapaian. Wajahnya pucat dengan bibir kering. Tanpa berkata apa-apa, dia duduk di sampingku. Kasihan, ibu ini pasti kehausan.
Saya berdiri dan mengambil sebotol air putih dari tas ransum yang tergantung di cabang pohon kecil di belakangku.
"Bu..., Ibu haus ? Ini ada air minum." kataku sambil menyodorkan sebotol air putih.
Dia menggeleng perlahan.
"Tidak usah sungkan Bu, saya ikhlas kok. Ibu minumlah."
Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.
Pandangannya beralih ke ujung jalan arah timur, lalu menghela nafas panjang. Tampaknya perjalanannya masih jauh.
"Ibu mau ke mana?" tanyaku lagi.
Dia tetap diam.
"Ibu mau saya antar ?"
Dia berpaling ke arahku dan menatapku. Melihat sinar matanya tiba-tiba saya merinding. Tatapan itu begitu dalam, tajam dan penuh misteri, seakan menyimpan sejuta rasa sakit, marah, sedih dan kecewa yang teramat sangat, namun tetap memancarkan keteduhan mata seorang ibu.
Ditatap seperti itu saya jadi salah tingkah dan merasa tidak enak. Mungkin saya terlalu banyak bertanya. Mungkin dia tidak ingin diganggu, dan ingin menikmati istirahatnya. Mungkin sebaiknya saya diam saja. Baiklah, saya akan diam dan membiarkan dia dengan dunianya.
Entah berapa lama kami diam dan hanyut dengan perasaan masing-masing. Hanya suara batuknya yang terkadang memecah kesunyian. Perhatianku kembali tersita ketika perlahan dia membuka bungkusan kain mirip buntalan bayi yang dibawanya. Ada sesuatu di dalamnya.
"Wah..jangan-jangan ini orang gila yang menculik anak bayi orang" pikirku. Tapi jika itu adalah seorang bayi manusia, kenapa tidak terdengar suara tangisannya. Seorang bayi tentu akan menangis sejadi-jadinya jika dibawa seperti itu dibawah sengatan matahari yang luar biasa panas.
Saya berusaha mengintip isi bungkusan itu. Bungkusan itu sudah sangat lusuh dan usang, warna merahnya sudah sangat pudar dan warna putihnya sudah sangat kusam penuh debu. Perlahan makhluk di dalam bungkusan itu bergerak-gerak tapi tidak bersuara. Si ibu terlihat mengusap-usapnya dengan penuh kasih sayang. Saya makin penasaran dibuatnya, tapi takut terlalu dekat, jangan sampai si ibu merasa terusik lagi.
"Dia terluka..." kata perempuan itu pelan. Untuk pertama kalinya saya mendengar suaranya. Ternyata dia bisa bicara juga, pikirku.
"Kenapa bisa terluka, Bu?" tanyaku sambil beringsut mendekatinya. Inilah kesempatanku untuk mengetahui isi bungkusannya.
"Dia terluka....karena orang-orang serakah, orang-orang tamak, orang-orang yang merasa dirinya pintar padahal bodoh, orang-orang yang pola pikirnya monoton, egois...". kata-katanya tertahan sejenak. Saya melihat tetesan air dari sudut matanya. Ohh...dia menangis. Perasaanku campur aduk. Melihat seorang ibu menangis sesenggukan, sungguh saya tak tahan. Sejenak dia menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ceritanya.
"Dia terluka,,, dihempaskan dari tempatnya, diinjak-injak, dilecehkan, dipermalukan, dihina, ditelantarkan... oleh orang-orang yang tak mengenalnya, tak memahaminya, tak menghargai keberadaannya..". Dia berhenti lagi dan mengusap air mata bercampur peluh di pipi tuanya.
Saya mengintip ke dalam bungkusan itu, dan kaget bercampur heran. Isinya ternyata seekor burung mirip elang, yang terluka. Di kedua pipi dan pangkal paruhnya terlihat lebam dan terdapat bercak darah yang sudah mengering. Beberapa helai bulu sayapnya patah, demikian pula dengan ekornya. Jari kaki kanannya juga patah. Kaki kirinya terlihat bengkak membiru seperti sudah tergilas suatu benda berat.
"Kasihan dia.." hanya itu yang bisa terucap dari bibirku. Saya kasihan dengan kondisi burung itu, serta iba melihat kesedihan si ibu yang nampaknya sangat menyayanginya seperti menyayangi anak kandungnya sendiri.
"Ya, kasihan. Jaman sekarang sudah tidak ada yang peduli dengannya.Puluhan tahun yang lalu dia dipuja dan dijunjung tinggi. Semua melindunginya, semua menjaganya dari mara bahaya.Tapi kini pemuja dan penjaganya tidak ada lagi. Sebagian dari mereka lapuk dan mati ditelan usia, sebagiannya lagi entah kemana rimbanya." Kemudian perempuan tua itu berusaha berdiri. Tampaknya dia ingin melanjutkan perjalanannya.
"Ibu mau kemana ? Mau saya antar ?" saya berusaha menawarkan bantuan.
"Saya akan ke arah matahari terbit. Mencari tempat yang aman, di mana saya akan menemukan orang-orang yang hatinya bersih dan bersedia merawatnya, menghormati dan menghargainya, serta menjunjung nilai-nilai keluhurannya. Tak perlu kau antar, Nak. Perjalanan ini akan sangat berat, panjang dan melelahkan. Kembalilah ke keluargamu. Ceritakanlah ke anak-anakmu tentang ini. Ajarilah mereka untuk mengenalnya dan menghormatinya. Di tangan merekalah kelak nasib burung ini dipertaruhkan. Selamat tinggal Nak, terimakasih atas segalanya..."
Lalu perempuan tua itu kembali melanjutkan langkahnya ke arah timur, meninggalkanku sendiri yang masih dilanda kebingungan.
Kupandangi dia sampai badan rapuhnya nenghilang di ujung jalan. Perempuan tua dengan bungkusan...
Ya Tuhan...kurasa saya mengenalnya kini. Perempuan itu... IBU PERTIWI yang membawa GARUDA PANCASILA dibungkus dengan kain bendera MERAH PUTIH yang sudah usang....

Balada Selembar Doa

Aku masih di sini
Menelan sehelai doa yang mati
Terasa durinya menikam hati
Ada jua damba masih menanti
Legam dosa diperam nurani

Sunyi menyumpal, hening merebak
Menembang balada yang tak pernah usai
Tentang sebuah rasa yang terlempar
Sekerat bumi yang aku pijak
Gersangnya sampai ke hati

Terkatung jua selembar doa
Menanti pamit menunggu reda
Sesayup nada melantun hiba
Membangunkan sepi mengajak meronta

Ah, aku kini lelah
Berlutut dan mengalah
Menebus dosa mengaku titah
Mati langkah

Biarlah doa itu pergi
Aku akan tetap di sini
Menembang balada purba
Yang telah lama lelap di pusara

DAMBA

Bersandar pada mimpi
Menjenguk harap mengelus diri
Serpih-serpih doa kering
Meranggas jatuh mengusap hening
Berbisik jua malam membenam
Di sampingnya sebuah tanya tenggelam

Seucap lirih bibir yang kelu
Mengecup damba yang mati beku
Terbungkus selembar desah
Berpelukan amarah dan pasrah
Berdaun harap
Berputik senyap

Kuketuk malam dengan seutas cahaya
Menymbutku sepi menjulurkan lidah
Kutarik napas pejamkan mata
Mengapa ada gundah
Terkapar gemanya di sayap waktu
Memburu takdir yang menderu

Ah, damba

Kapan kuncupmu berputik di hati

Lelaki Di Dermaga Tengkayu

Menampak kembara menyusur riak
Terasa asing angin menyapa daun indera
Hening menepi menangkup dada
Betapa resah enggan tersibak

Sekali jua kerlip menyapa
Lalu tenggelam dalam bayangan dermaga
Kota Tarakan menyindir sekilas
Di dermaga seraut wajah memelas

Jauh kini kembara terbawa angin
Karam di sebuah dunia yang mati rasa
Dengan cakar mengoyak makna
Menyambutnya isak teramat dingin

Lelaki di dermaga Tengkayu
Dielus angin menatap sayu
Di dadanya perih bertalu-talu

Lelaki di dermaga Tengkayu
Berbaju duka bersarung pilu
Berdiri termangu

Terpaku sendiri
Terbuang sendiri
Terisak sendiri
Menunggu mati
Menggamit hati

Lelaki di dermaga Tengkayu
Sebentuk bayang-bayang diriku

DUNIA

Mengulur rasa yang mati langkah
Kujejaki tanah manjaku dengan tapak berdarah
Tanya dan anggukan tak tersanggah
Angin berlalu menyingkap selembar kesah
Hei, kulihat wajahku di di dada rembulan
Mengusap sepi dengan punggung tangan

Sayap-sayap zaman melambai suara
Tersekat hening menggelepar hampa
Aku yang kerdil di mata dunia
Berkendara sebutir pasir mayapada
Kujelajah bumi dengan sehelai mimpi
Nyatanya kuterhempas di dada sendiri

Sunyi menjenguk biru malam
Menguapkan debar yang pernah kupendam
Menggali singkap segala dambaku
Ah, ibu…
Betapa kuingin menggenggam dunia
Tapi jemariku kehabisan jengkal

DOSA

Sehitam pekat semerah luka
Menyusup dalam hening
Berbisik dalam bisu
Mengajak dalam diam
Tawarkan seteguk madu segelas duri

Sehening gelap sesuram gulita
Merayap dalam sepi
Mengusap dalam sunyi
Menebar bujuk menggandeng hati
Mengukir mimpi seindah duri

Terbang bersayap pelangi
Menari memayungi diri
Mencekik hati dalam terlena
Menidurkan jiwa di atas permadani

Hempaskan diri di atas bara api

SETANGKAI ANGREK BULAN

{Sekapur Sirih}
Cerpen ini memiliki nilai tersendiri bagi saya, karena dari beberapa cerpen yang saya selesaikan, cerpen ini adalah yang pertama ikut dalam Lomba Menulis Cerpen Anak yang diselenggarakan oleh Majalah ANDAKA (Anak dan Pramuka) tahun 1997. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 MTsN Takalala (Marioriwawo). Meskipun tidak mendapatkan predikat juara, cerpen ini diterbitkan di Majalah ANDAKA. Beberapa kalimat mungkin terkesan lebay, maklum wawasan pembahasaan masih minim, masih belajar menulis waktu itu. heheh...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


                                                              SETANGKAI ANGREK BULAN

Edi dan Fitri adalah dua sahabat karib. Mereka duduk di kelas yang sama, yaitu di kelas enam SDN Tunas harapan. Rumah Edi terletak tidak begitu jauh dari rumah Fitri. Setiap hari mereka pergi ke sekolah bersama-sama dengan bersepeda.
Seperti hari-hari yang lalu, hari itupun keduanya tampak berangkat ke sekolah bersama-sama. Saat itu jalanan belum begitu ramai dengan kendaraan karena hari masih pagi.
“Oya, Fit,” kata Edi membuka percakapan,”Minggu depan kan kita sudah libur. Apakah kau sudah punya rencana untuk mengisi hari libur nanti ?”
“Untuk saat ini aku belum punya rencana apa-apa. Bagaimana dengan kamu ?” Fitri balas bertanya.
“Rencananya sih aku mau ikut kakak berlibur ke desa tempat tinggal nenekku, sekaligus menjenguk beliau.”
“Boleh aku ikut ?”
“Boleh, kata Kak Yanti siapapun boleh ikut, asalkan ada izin dari orangtuanya”
“Kalau begitu nanti aku minta izin pada papa dan mamaku di rumah.”

Ternyata Fitri memang diizinkan oleh orangtuanya untuk ikut berlibur ke desa. Tapi sehari sebelum keberangkatan mereka, Fitri jatuh sakit. Badannya panas dan wajahnya pucat. Fitri tidak jadi ikut bersama Edi. Sebelum berangkat ke desa, Edi menyempatkan diri menjenguk Fitri di rumahnya. Tak lupa Edi membawa sekantung kecil buah apel segar untuk Fitri. Tok…tok…tok…, Edi mengetuk pintu.
“Assalamu Alaikum…!” Edi mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam…!” terdengar jawaban dari dalam. Sejurus kemudian pintu terbuka.
“Eh,Nak Edi. Mari masuk…!” sambut Bu Lastri, ibunya Fitri dengan ramah.
“Terimakasih, Tante.”
Bu Lastri mengajak Edi langsung ke kamar Fitri. Di tempat tidur, Fitri terbaring lemah dengan muka pucat dan pandangan kuyu. Tapi demi melihat sahabatnya datang, ia berusaha tersenyum dan mencoba untuk bangun, namun dicegah oleh Edi.
“Berbaring sajalah. Jangan terlalu memaksakan diri.” Kata Edi sambil duduk di kursi dekat tempat tidur Fitri. Sementara Bu Lastri duduk di pinggir tempat tidur dan membetulkan selimut Fitri.
“Oya, ini saya bawakan apel kesukaanmu. Dimakan,ya!”kata Edi sambil menyodorkan bungkusan apel yang dibawanya.
“Terimakasih ya, Di ! aku jadi merepotkanmu saja.”
“Ah, aku tidak merasa repot, kok !”
“Kamu memang sahabatku yang paling baik, Di!”
“Kamu juga sahabatku yang paling baik, Fit.” Kata Edi. Bu Lastri hanya mendengarkan percakapan mereka sambil tersenyum-senyum.
“Nanti kamu ingin oleh-oleh apa dari desa, Fit ?” tanya Edi.
“Kata orang, di desa tempat tinggal nenekmu itu banyak bunga anggreknya. Apa benar begitu ?”
“Benar. Tempat itu terkenal dengan bunga anggreknya, apalagi anggrek bulan.”
“Kalau begitu, aku minta anggrek bulan, ya ?”
“Beres ! “
* * * * * *
Selama seminggu Edi menghabiskan waktu liburannya di desa neneknya. Tapi ia merasa keceriaannya kurang lengkap tanpa kehadiran Fitri, sahabatnya yang baik itu. Tak sempurna rasanya kegembiraannya tanpa adanya seorang sahabat sebaik Fitri. Fitri memang berbeda dengan yang lainnya. Fitri sahabat yang baik. Ia tidak sombong meskipun ia anak orang kaya. Satu hal yang membuat Edi terkagum-kagum adalah sifat dan sikap Fitri yang kadang-kadang berpikiran dewasa. Fitri selalu saja dapat memahami dan mengerti jalan pikiran orang lain. Sepanjang ingatan Edi, belum pernah ia berselisih paham dengannya. Tiba-tiba perasaan Edi menjadi kurang enak, apalagi mengingat Fitri sekarang sedang dalam keadaan sakit.
Sore itu Edi telah sampai kembali di rumahnya. Setelah mandi dan ganti pakaian, ia mengeluarkan sepedanya. Di luar gerimis mulai turun.
“Mau ke mana hujan-hujan begini, Di ?” tanya ibunya dari dapur.
“Mau ke rumah Fitri, Bu ! mau mengantarkan anggrek pesanannya.”
“Hati-hati di jalan. Pulangnya jangan terlalu malam !” pesan ibunya.
“Iya, Bu !”
Dengan agak tergesa Edi mengayuh sepedanya menuju ke rumah Fitri. Ia ingin segera bertemu dengan Fitri dan menyerahkan anggrek bulan yang dipesannya. Tak lama kemudian ia telah sampai di depan rumah Fitri. Edi tertegun di halaman. Ia heran menyaksikan suasana rumah yang biasanya sepi itu sekarang ramai oleh beberapa orang tetangga. Dalam hati Edi muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya ?
Belum sempat Edi menemukan jawaban dari pertanyaannya, tiba-tiba Bu Lastri muncul dari dalam rumah dan langsung berlari menubruk Edi sambil menangis terisak.
“Edi, “ kata Bu Lastri di sela isak tangisnya, “kau datang terlambat, Nak !”
“Maksud Tante ?” tanya Edi polos kurang mengerti.
“Fitri, nak….” Kata Bu Lastri tersendat-sendat, “Fitri telah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya….” Lalu Bu Lastri jatuh pingsan. Beberapa orang tetangga segera menggotong tubuh wanita itu ke dalam rumah.

Tahulah Edi sekarang bahwa sahabatnya telah meninggal sebelum ia datang. Fitri telah meninggal dunia tadi pagi. Leukimia yang dideritanya telah sampai ke otak dan membuat jiwanya tak tertolong lagi. Jenazahnya dikuburkan di pekuburan umum di pinggir kota.
Seketika Edi merasakan sekujur tubuhnya jadi lemas dan perasaannya tiba-tiba jadi kosong. Ia merasakan seakan-akan langit telah runtuh dan menimpa kepalanya. Kesedihannya memuncak tatkala mendengar dari ayah Fitri bahwa sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, Fitri masih sempat menyebut nama Edi.
Dengan perasaan tak menentu Edi segera memacu sepedanya menuju ke pekuburan yang berada di pinggir kota. Di depan gundukan tanah yang masih merah itu ia bersimpuh dan mengusap sebuah nisan yang bertuliskan ‘Fitri Sulastri’. Dadanya bergemuruh, kesedihan berkecamuk di dalam hatinya. Rasanya ia ingin berteriak memanggil nama sahabatnya yang kini terbaring di dalam gundukan tanah itu, namun suaranya tersekat di kerongkongan. Airmatanya tak terbendung lagi, mengalir seiring gerimis yang turun di sore yang mendung itu. Perlahan diraihnya tanaman anggrek bulan yang sedianya ia bawa dari desa sebagai oleh-oleh untuk Fitri lalu diletakkannya di atas pusara sahabatnya itu.
“Fitri…, maafkan aku. Aku terlambat datang padamu….” Ucapnya lirih sambil mengusap airmatanya. Lama ia menatap gundukan tanah merah itu. Dirasakannya sebagian hidupnya hilang terkubur bersama jasad Fitri. Terbayang lagi saat-saat indah bersama Fitri, hari-hari yang indah, manis, dan penuh damai. Tapi hari-hari indah itu tak akan pernah terulang lagi, untuk selamanya.
Selembar daun kemboja gugur tertiup angin dan jatuh di depan Edi menyadarkannya dari lamunannya. Perlahan diusapnya airmata yang jatuh di pipinya. Sementara itu hujan turun makin deras. Perlahan Edi bangkit berdiri. Sekali lagi diusapnya nisan sahabatnya itu sambil berbisik lirih.

“Selamat jalan Fitri….., Selamat jalan sahabatku………”

MASA

Satu masa telah berganti
Diputar detik tanpa kusadari
Dan aku masih di sini
Berdiri di pinggiran diam begini sepi
Tak tahu daku wahai
Akankah tangga sorga ditegakkan di sini

Sayap-sayap diam yang termangu
Tiba-tiba bergetar mengepakkan deru
Tangannya menyambar sunyi semati beku
Senyap meronta dielus angin lalu
Menikam makna yang termangu
Mengelus hati yang menatap ragu

Angin mengusap lagu
Mendayu-dayu memnjati rumpun bambu
Mengukir kisah dan catatan baru
Terbaca lewat cerita bisu
Ah, aku tak pernah tahu
Mengapa cerit dan peristiwa selalu beku

Satu masa telah berganti
Diputar detik tanpa kusadari
Dan aku masih di sini
Mengulur rasa memetik puisi

Potret Diri
















Sebuah potret
Berbingkai sunyi berkaca duka
Bergantung seutas pengharapan
Menghitung napas mengeja nama
Mengusap peluh di lumpur langit

Potret itu bergerak
Membenahi hatinya yang koyak
Dengan sehelai rambut
Lihatlah, potret itu menari
Ah tidak, potret itu menangis

Potret itu bergerak lagi
Melambai dengan jemari yang hilang
Memanggilku dengan sebuah nama asing

Sebuah potret berwajah sepi
Menengok ke hatiku
Di sini ia tahu, ada doa mekar jadi duri

Sebuah potret berwajah sepi
Berbingkai sunyi berkaca duka
Itu potret diriku hari ini

Bulan Di Serambi Malam















Angin meniup harap
Berdekam siang di perut malam
Ada bulan di serambi malam
Matanya merah nanar menatap
Tangan dan hatinya kehilangan kata
Ketika arti kehilangan makna

Kulempar harapku ke wajah rembulan
Terantuk langit tanpa bayang
Jatuh ke bumi tanpa melayang
Lemas terkulai merajut tangisan
Ah, diamlah berharap
Bulan merah itu kini enggan menatap

Hei bulan di serambi malam
Bawa aku ke tepi diam
Sematkan tanganmu di lunglai rambutku
Jejakkan kakimu di dada manjaku
Bangunkan tidurku dengan elusan
Kuingin terjaga di mimpi penghabisan

Ada bulan di serambi malam
Sepotong hatiku ingin diam

HILANG



Malam membenam
Gelap merenangi mayapada
Detak waktu nyanyikan getar nadi
Pekat berpusar merenda rasa
Lelap bersumbu di dada malam

Sepi ternyata dapat bersuara
Menuding mukaku yang membatu
Menyergap hatiku yang ingin diam
Ah, kemana perginya penyair bisu
Yang selalu setia menyeka kening purnama

Gelap itu menari tarian malam
Berlagu hening berirama bisu
Namun terasa usapannya gemetar
Mengharap kerlip di perut kelam
Sesosok bayang tak pernah letih merindu

Aku diam Angin mati
Malam bermimpi
Sepi bernyanyi
Alam hilang dalam kelam

Gelap itu menari lagi
Aku hilang dalam bayangan