Jumat, 28 April 2017

SETANGKAI ANGREK BULAN

{Sekapur Sirih}
Cerpen ini memiliki nilai tersendiri bagi saya, karena dari beberapa cerpen yang saya selesaikan, cerpen ini adalah yang pertama ikut dalam Lomba Menulis Cerpen Anak yang diselenggarakan oleh Majalah ANDAKA (Anak dan Pramuka) tahun 1997. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 MTsN Takalala (Marioriwawo). Meskipun tidak mendapatkan predikat juara, cerpen ini diterbitkan di Majalah ANDAKA. Beberapa kalimat mungkin terkesan lebay, maklum wawasan pembahasaan masih minim, masih belajar menulis waktu itu. heheh...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



                                                              SETANGKAI ANGREK BULAN

Edi dan Fitri adalah dua sahabat karib. Mereka duduk di kelas yang sama, yaitu di kelas enam SDN Tunas harapan. Rumah Edi terletak tidak begitu jauh dari rumah Fitri. Setiap hari mereka pergi ke sekolah bersama-sama dengan bersepeda.
Seperti hari-hari yang lalu, hari itupun keduanya tampak berangkat ke sekolah bersama-sama. Saat itu jalanan belum begitu ramai dengan kendaraan karena hari masih pagi.
“Oya, Fit,” kata Edi membuka percakapan,”Minggu depan kan kita sudah libur. Apakah kau sudah punya rencana untuk mengisi hari libur nanti ?”
“Untuk saat ini aku belum punya rencana apa-apa. Bagaimana dengan kamu ?” Fitri balas bertanya.
“Rencananya sih aku mau ikut kakak berlibur ke desa tempat tinggal nenekku, sekaligus menjenguk beliau.”
“Boleh aku ikut ?”
“Boleh, kata Kak Yanti siapapun boleh ikut, asalkan ada izin dari orangtuanya”
“Kalau begitu nanti aku minta izin pada papa dan mamaku di rumah.”

Ternyata Fitri memang diizinkan oleh orangtuanya untuk ikut berlibur ke desa. Tapi sehari sebelum keberangkatan mereka, Fitri jatuh sakit. Badannya panas dan wajahnya pucat. Fitri tidak jadi ikut bersama Edi. Sebelum berangkat ke desa, Edi menyempatkan diri menjenguk Fitri di rumahnya. Tak lupa Edi membawa sekantung kecil buah apel segar untuk Fitri. Tok…tok…tok…, Edi mengetuk pintu.
“Assalamu Alaikum…!” Edi mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam…!” terdengar jawaban dari dalam. Sejurus kemudian pintu terbuka.
“Eh,Nak Edi. Mari masuk…!” sambut Bu Lastri, ibunya Fitri dengan ramah.
“Terimakasih, Tante.”
Bu Lastri mengajak Edi langsung ke kamar Fitri. Di tempat tidur, Fitri terbaring lemah dengan muka pucat dan pandangan kuyu. Tapi demi melihat sahabatnya datang, ia berusaha tersenyum dan mencoba untuk bangun, namun dicegah oleh Edi.
“Berbaring sajalah. Jangan terlalu memaksakan diri.” Kata Edi sambil duduk di kursi dekat tempat tidur Fitri. Sementara Bu Lastri duduk di pinggir tempat tidur dan membetulkan selimut Fitri.
“Oya, ini saya bawakan apel kesukaanmu. Dimakan,ya!”kata Edi sambil menyodorkan bungkusan apel yang dibawanya.
“Terimakasih ya, Di ! aku jadi merepotkanmu saja.”
“Ah, aku tidak merasa repot, kok !”
“Kamu memang sahabatku yang paling baik, Di!”
“Kamu juga sahabatku yang paling baik, Fit.” Kata Edi. Bu Lastri hanya mendengarkan percakapan mereka sambil tersenyum-senyum.
“Nanti kamu ingin oleh-oleh apa dari desa, Fit ?” tanya Edi.
“Kata orang, di desa tempat tinggal nenekmu itu banyak bunga anggreknya. Apa benar begitu ?”
“Benar. Tempat itu terkenal dengan bunga anggreknya, apalagi anggrek bulan.”
“Kalau begitu, aku minta anggrek bulan, ya ?”
“Beres ! “
* * * * * *
Selama seminggu Edi menghabiskan waktu liburannya di desa neneknya. Tapi ia merasa keceriaannya kurang lengkap tanpa kehadiran Fitri, sahabatnya yang baik itu. Tak sempurna rasanya kegembiraannya tanpa adanya seorang sahabat sebaik Fitri. Fitri memang berbeda dengan yang lainnya. Fitri sahabat yang baik. Ia tidak sombong meskipun ia anak orang kaya. Satu hal yang membuat Edi terkagum-kagum adalah sifat dan sikap Fitri yang kadang-kadang berpikiran dewasa. Fitri selalu saja dapat memahami dan mengerti jalan pikiran orang lain. Sepanjang ingatan Edi, belum pernah ia berselisih paham dengannya. Tiba-tiba perasaan Edi menjadi kurang enak, apalagi mengingat Fitri sekarang sedang dalam keadaan sakit.
Sore itu Edi telah sampai kembali di rumahnya. Setelah mandi dan ganti pakaian, ia mengeluarkan sepedanya. Di luar gerimis mulai turun.
“Mau ke mana hujan-hujan begini, Di ?” tanya ibunya dari dapur.
“Mau ke rumah Fitri, Bu ! mau mengantarkan anggrek pesanannya.”
“Hati-hati di jalan. Pulangnya jangan terlalu malam !” pesan ibunya.
“Iya, Bu !”
Dengan agak tergesa Edi mengayuh sepedanya menuju ke rumah Fitri. Ia ingin segera bertemu dengan Fitri dan menyerahkan anggrek bulan yang dipesannya. Tak lama kemudian ia telah sampai di depan rumah Fitri. Edi tertegun di halaman. Ia heran menyaksikan suasana rumah yang biasanya sepi itu sekarang ramai oleh beberapa orang tetangga. Dalam hati Edi muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya ?
Belum sempat Edi menemukan jawaban dari pertanyaannya, tiba-tiba Bu Lastri muncul dari dalam rumah dan langsung berlari menubruk Edi sambil menangis terisak.
“Edi, “ kata Bu Lastri di sela isak tangisnya, “kau datang terlambat, Nak !”
“Maksud Tante ?” tanya Edi polos kurang mengerti.
“Fitri, nak….” Kata Bu Lastri tersendat-sendat, “Fitri telah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya….” Lalu Bu Lastri jatuh pingsan. Beberapa orang tetangga segera menggotong tubuh wanita itu ke dalam rumah.

Tahulah Edi sekarang bahwa sahabatnya telah meninggal sebelum ia datang. Fitri telah meninggal dunia tadi pagi. Leukimia yang dideritanya telah sampai ke otak dan membuat jiwanya tak tertolong lagi. Jenazahnya dikuburkan di pekuburan umum di pinggir kota.
Seketika Edi merasakan sekujur tubuhnya jadi lemas dan perasaannya tiba-tiba jadi kosong. Ia merasakan seakan-akan langit telah runtuh dan menimpa kepalanya. Kesedihannya memuncak tatkala mendengar dari ayah Fitri bahwa sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, Fitri masih sempat menyebut nama Edi.
Dengan perasaan tak menentu Edi segera memacu sepedanya menuju ke pekuburan yang berada di pinggir kota. Di depan gundukan tanah yang masih merah itu ia bersimpuh dan mengusap sebuah nisan yang bertuliskan ‘Fitri Sulastri’. Dadanya bergemuruh, kesedihan berkecamuk di dalam hatinya. Rasanya ia ingin berteriak memanggil nama sahabatnya yang kini terbaring di dalam gundukan tanah itu, namun suaranya tersekat di kerongkongan. Airmatanya tak terbendung lagi, mengalir seiring gerimis yang turun di sore yang mendung itu. Perlahan diraihnya tanaman anggrek bulan yang sedianya ia bawa dari desa sebagai oleh-oleh untuk Fitri lalu diletakkannya di atas pusara sahabatnya itu.
“Fitri…, maafkan aku. Aku terlambat datang padamu….” Ucapnya lirih sambil mengusap airmatanya. Lama ia menatap gundukan tanah merah itu. Dirasakannya sebagian hidupnya hilang terkubur bersama jasad Fitri. Terbayang lagi saat-saat indah bersama Fitri, hari-hari yang indah, manis, dan penuh damai. Tapi hari-hari indah itu tak akan pernah terulang lagi, untuk selamanya.
Selembar daun kemboja gugur tertiup angin dan jatuh di depan Edi menyadarkannya dari lamunannya. Perlahan diusapnya airmata yang jatuh di pipinya. Sementara itu hujan turun makin deras. Perlahan Edi bangkit berdiri. Sekali lagi diusapnya nisan sahabatnya itu sambil berbisik lirih.

“Selamat jalan Fitri….., Selamat jalan sahabatku………”

2 komentar:

  1. Jadi inget pernah bawain cerita ini Nemu dimajalah sekolah pas lomba bercerita pas SD,
    Penuh kenangan,
    Terimakasih mas pengarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mas sdh mampir. gak nyangka goresan kecilku dpt apresiasi kecil dari jauh. itu cerpen memang masih jaman SD dulu. dulu suka belajar menulis cerpen dan puisi, meski hasilnya berantakan hehehe

      Hapus